Kue Maksuba & Lapis Kojo: Si Manis Legendaris yang Menyimpan Jiwa Palembang

Kue Lapis Kojo dan Maksuba (Foto: Cokkpad)

DI PALEMBANG, kue basah bukan sekadar camilan—ia adalah bagian dari tradisi, penghormatan, dan identitas budaya. Saat ada perayaan besar—pernikahan, khatam Al-Qur’an, hari raya, atau menerima tamu kehormatan—meja tamu hampir pasti dihiasi deretan kue premium: maksuba, lapis kojo, engkak, bingka, dan beberapa jenis lapis legit lainnya.

Dua di antaranya selalu menjadi bintang utama: Maksuba dan Lapis Kojo. Keduanya bukan kue yang dibuat sembarangan; prosesnya panjang, bahan bakunya mahal, dan penyajiannya penuh makna. Mereka adalah simbol kemewahan sederhana yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang dibesarkan dengan aroma pandan dan suji di dapur tradisional.

Maksuba adalah kue telur paling ikonik dari Palembang. Namanya berasal dari bahasa Arab “maksub” yang berarti “tersusun” atau “ditumpuk”, dan memang begitulah cara pembuatannya. Satu loyang maksuba bisa menghabiskan 40–60 butir telur bebek, ditambah gula, santan kental, dan sedikit tepung terigu.

Adonan dituang tipis-tipis ke loyang, dipanggang lapis demi lapis di atas bara api atau oven tradisional hingga berwarna kuning keemasan. Proses ini bisa memakan waktu hingga 4–6 jam, bahkan lebih jika dibuat secara manual.

Hasilnya adalah kue yang padat, lembut, berlapis-lapis halus, dengan rasa manis gurih telur yang kaya dan aroma karamel alami dari proses pemanggangan panjang. Satu gigitan saja sudah cukup membuat orang menghela napas—karena rasanya memang mewah.

Jika Maksuba adalah raja kue kuning yang megah, Lapis Kojo adalah ratu hijau yang menenangkan. Warnanya hijau alami dari daun pandan dan ekstrak suji, dua bahan yang memberikan aroma khas yang sulit ditiru oleh pewarna buatan.

Teksturnya legit, padat namun tidak terlalu keras, dengan lapisan-lapisan tipis yang terbentuk dari adonan santan, tepung beras, gula, dan telur yang juga dipanggang berlapis-lapis. Aroma suji yang segar dan sedikit manis floral membuat Lapis Kojo terasa seperti pelukan hangat dari kampung halaman. Banyak orang Palembang bilang, kalau sedang rindu rumah, cukup hirup aroma Lapis Kojo—langsung terbayang dapur nenek dan suara sendok mengaduk panci tembaga.

Di balik proses pembuatan yang sangat memakan waktu, tersimpan filosofi mendalam. Membuat Maksuba dan Lapis Kojo tidak bisa buru-buru. Harus sabar menunggu setiap lapis matang sempurna, harus telaten mengatur api agar tidak gosong, dan harus penuh perhatian agar tekstur merata.

Bagi masyarakat Palembang, proses panjang ini bukan sekadar teknis—ia menjadi simbol kesabaran, ketelatenan, dan penghargaan terhadap waktu serta bahan yang Allah berikan. Kue ini tidak dibuat untuk konsumsi sehari-hari; ia dibuat untuk momen-momen berharga, sehingga nilai kesabaran itu ikut “dihidangkan” kepada tamu.

Itulah mengapa menyajikan Maksuba dan Lapis Kojo kepada tamu istimewa memiliki status sosial dan nilai kehormatan yang tinggi. Di acara adat, tamu yang dihidangkan kue-kue ini biasanya adalah orang yang dihormati—besan, tokoh masyarakat, atau kerabat jauh yang jarang datang.

Meletakkan sepotong Maksuba dan Lapis Kojo di piring tamu bukan sekadar menyuguhkan makanan, melainkan menyampaikan pesan: “Kamu begitu berharga sehingga kami rela menghabiskan waktu dan bahan terbaik untuk menghormatimu.” Tradisi ini masih kuat hingga sekarang di kalangan keluarga-keluarga tua Palembang.

Namun, di era pastry modern yang serba instan, kue-kue warisan ini mulai tergerus. Banyak generasi muda lebih memilih cake kekinian atau dessert box yang cepat dibuat dan lebih murah. Maksuba dan Lapis Kojo yang asli hampir punah di pasaran—kecuali di tangan para emak-emak atau warung-warung kecil yang masih mempertahankan resep turun-temurun.

Inilah saatnya kita bergerak: belajar membuatnya, memesannya dari pembuat tradisional, atau sekadar mengenalkannya kepada anak dan cucu. Melestarikan Maksuba dan Lapis Kojo bukan hanya soal menjaga resep, tapi juga menjaga nilai kesabaran, penghormatan, dan identitas budaya Palembang yang sudah ada ratusan tahun.

Jadi, kalau suatu hari kamu ke Palembang atau bertemu orang Palembang yang membawa kue dari kampung halaman, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi Maksuba dan Lapis Kojo. Di balik manisnya, ada cerita panjang tentang cinta, kesabaran, dan kehormatan. Itulah si manis legendaris yang tak tergantikan. (aurel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *