Celimpungan: Si Kuning Gurih yang Sering Terlupakan di Balik Kemegahan Pempek

Makanan khas Palembang, Celimpungan. (Foto: ist/net)

DI TENGAH gemerlap kuliner Palembang yang didominasi pempek, ada satu hidangan berbahan dasar ikan yang kerap luput dari perhatian wisatawan: Celimpungan. Banyak yang datang ke kota ini hanya memburu pempek lenjer, kapal selam, atau adaan, lalu pulang tanpa pernah tahu bahwa Palembang punya “si kuning gurih” yang tak kalah legendaris.

Celimpungan adalah varian olahan ikan patin atau tenggiri yang lebih sederhana, lebih hangat, dan sangat dekat dengan keseharian masyarakat lokal—hidangan yang justru sering jadi penutup rindu ketika orang Palembang merantau.

Sekilas, Celimpungan sering disamakan dengan tekwan karena keduanya memiliki ‘nasi’ dengan bentuk yang sama dan berbahan dasar ikan. Namun, perbedaan mereka cukup mencolok, celimpungan berkuah santan sedangkan tekwan kuanya bening.

Jika tekwan menyajikan bola ikan kecil-kecil yang lembut dan hampir menyatu dengan kuah, Celimpungan justru hadir dengan bola ikan yang jauh lebih besar, bulat sempurna, dan punya tekstur padat kenyal di luar namun lembut di dalam. Bola ikan ini dibentuk tangan dengan teliti, sering kali seukuran telapak tangan anak kecil, sehingga setiap suapan terasa lebih mengenyangkan dan bertekstur.

Rahasia utama yang membuat Celimpungan begitu dicintai terletak pada kuah santannya yang berwarna kuning cerah. Warna itu bukan sekadar pewarna makanan, melainkan hasil perpaduan kunyit segar yang melimpah, lengkuas yang dimemarkan hingga mengeluarkan aroma tajam, serta kemiri sangrai yang memberikan kekentalan dan rasa gurih mendalam.

Beberapa penjual tradisional bahkan menambahkan sedikit serai dan daun jeruk purut agar aromanya semakin menggoda. Kuah ini biasanya tidak terlalu kental seperti opor, melainkan sedikit encer namun tetap kaya rasa—cukup untuk membasahi nasi putih hangat atau disantap langsung dengan sendok.

Sensasi yang ditawarkan Celimpungan adalah perpaduan gurih hangat yang menenangkan. Kuah santannya yang mild namun berlapis rasa rempah membuatnya sangat cocok dinikmati di pagi hari sebagai sarapan, atau sebagai hidangan pembuka dalam acara adat seperti kenduri dan pernikahan.

Bagi orang Palembang, aroma kunyit dan santan Celimpungan sering membangkitkan kenangan masa kecil: suara lesung menumbuk bumbu di dapur belakang, ibu atau nenek sibuk mengaduk panci besar, dan meja makan yang ramai. Ia bukan makanan mewah, tapi selalu hadir saat dibutuhkan—comfort food dalam arti yang paling tulus.

Tak lengkap rasanya menyantap Celimpungan tanpa pelengkap wajibnya: taburan bawang goreng yang renyah dan wangi, serta sambal merah pedas yang dibuat dari cabai rawit, bawang, dan sedikit terasi. Bawang goreng memberikan tekstur kontras pada kuah yang lembut, sementara sambal merah menghadirkan tendangan pedas yang menyeimbangkan kekayaan santan sehingga tidak terasa enek. Beberapa orang bahkan menambahkan jeruk nipis atau irisan mentimun segar untuk menyegarkan.

Celimpungan bukan sekadar makanan—ia adalah cerminan sifat masyarakat Palembang: sederhana, hangat, dan penuh rasa. Di balik popularitas pempek yang mendunia, Celimpungan tetap setia menemani hari-hari biasa, menjadi penawar rindu bagi perantau, dan mengingatkan bahwa kekayaan kuliner Palembang tidak hanya terletak pada yang terkenal, tetapi juga pada yang paling dekat dengan hati. Jadi, kalau suatu hari kamu ke Palembang, jangan hanya berburu pempek. Luangkan waktu untuk mencicipi semangkuk Celimpungan panas—si kuning gurih yang diam-diam jadi favorit banyak orang.

Wajib dicoba, Lur! (aurel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *