<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kuliner Archives - Berita Sebelas</title>
	<atom:link href="https://beritasebelas.net/category/kuliner/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://beritasebelas.net/category/kuliner/</link>
	<description>Jerambah Informasi Sumatera Selatan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Feb 2026 15:53:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://beritasebelas.net/wp-content/uploads/2026/02/cropped-cropped-Logo-Berita-Sebelas-BS-32x32.png</url>
	<title>Kuliner Archives - Berita Sebelas</title>
	<link>https://beritasebelas.net/category/kuliner/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mie Celor: Pasta Khas &#8216;Wong Kito&#8217; yang Bikin Ketagihan</title>
		<link>https://beritasebelas.net/mie-celor-pasta-khas-wong-kito-yang-bikin-ketagihan/</link>
					<comments>https://beritasebelas.net/mie-celor-pasta-khas-wong-kito-yang-bikin-ketagihan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurelia Titania]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2026 15:53:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[#Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[#Mie Celor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://beritasebelas.net/?p=712</guid>

					<description><![CDATA[<p>BAYANGKAN semangkuk mie kuning tebal berukuran jumbo, panjang-panjang, terendam dalam kuah kental berwarna putih jingga yang lembut dan menggoda. Itulah Mie Celor—satu-satunya mie berkuah santan di Indonesia yang rasanya begitu khas Palembang. Warnanya yang cerah berasal dari campuran santan dan bumbu rempah, sementara mie-nya sendiri terbuat dari tepung terigu yang digiling kasar sehingga teksturnya kenyal...</p>
<p>The post <a href="https://beritasebelas.net/mie-celor-pasta-khas-wong-kito-yang-bikin-ketagihan/">Mie Celor: Pasta Khas &#8216;Wong Kito&#8217; yang Bikin Ketagihan</a> appeared first on <a href="https://beritasebelas.net">Berita Sebelas</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>BAYANGKAN</strong> semangkuk mie kuning tebal berukuran jumbo, panjang-panjang, terendam dalam kuah kental berwarna putih jingga yang lembut dan menggoda. Itulah Mie Celor—satu-satunya mie berkuah santan di Indonesia yang rasanya begitu khas Palembang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Warnanya yang cerah berasal dari campuran santan dan bumbu rempah, sementara mie-nya sendiri terbuat dari tepung terigu yang digiling kasar sehingga teksturnya kenyal dan sedikit kasar—sangat berbeda dari mie kuning biasa. Saat kuah menyentuh lidah, aroma seafood langsung tercium kuat, disusul rasa gurih yang hangat dan creamy. Satu suap, dan langsung terasa “ini pasti mie Palembang”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keunikan utama Mie Celor terletak pada kaldu yang menjadi jiwanya: saripati udang galah. Bukan udang biasa, tapi udang galah sungai yang besar dan manis dagingnya. Udang-udang ini direbus lama hingga sarinya benar-benar keluar, menghasilkan kaldu seafood yang kaya, dalam, dan mewah—rasanya jauh lebih intens dibandingkan kaldu ayam atau sapi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang membuat Mie Celor terasa istimewa; kuahnya bukan sekadar santan encer, melainkan perpaduan kaldu udang galah yang pekat dengan rempah-rempah khas seperti bawang merah, bawang putih, dan sedikit merica. Bagi wong kito yang sudah terbiasa, aroma ini saja sudah cukup membangkitkan selera dan nostalgia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekstur kuah yang creamy dan menempel sempurna pada mie adalah hasil dari peran ganda santan dan tepung terigu. Santan memberikan kekayaan rasa dan kelembutan, sementara tepung terigu ditambahkan secara perlahan sambil diaduk hingga kuah mengental tanpa menggumpal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Teknik ini mirip membuat bechamel sauce dalam masakan Barat, tapi dengan sentuhan lokal yang jauh lebih gurih. Hasilnya adalah kuah yang <em>silky</em>, tidak terlalu encer, dan membalut setiap helai mie dengan sempurna—sehingga setiap gigitan terasa padat rasa, bukan hanya mie plus kuah terpisah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lengkap rasanya Mie Celor tanpa pelengkap wajibnya. Tauge segar yang direndam air es memberikan tekstur renyah kontras dengan mie yang kenyal dan kuah yang lembut. Potongan telur rebus setengah matang menambahkan kelembutan creamy dan rasa gurih kuning telur yang meleleh. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu ada kucai (daun bawang iris halus) yang diserakkan di atas—memberi warna hijau segar dan aroma segar yang mempercantik tampilan sekaligus menyeimbangkan kekayaan kuah. Beberapa penjual juga menambahkan bawang goreng dan jeruk nipis di samping untuk yang suka sedikit asam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mie Celor paling nikmat disantap di pagi hari, saat udara masih sejuk dan perut belum terlalu lapar. Kuah hangatnya terasa pas sebagai pembuka hari, apalagi disertai segelas teh tawar atau es teh manis. Di Palembang, tempat-tempat legendaris yang wajib dikunjungi untuk mencicipi Mie Celor asli adalah Mie Celor 26 Ilir (dekat Pasar 16 Ilir), Mie Celor Pak Raden di Jalan Jendral Sudirman, dan Mie Celor Mbok Siti di daerah Plaju. Ketiganya masih mempertahankan resep turun-temurun dengan udang galah segar dan kuah yang dibuat dari nol setiap pagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mie Celor adalah bukti nyata kreativitas kuliner Palembang dalam mengolah hasil laut selain ikan. Jika pempek memanfaatkan ikan sebagai bahan utama, Mie Celor justru mengangkat udang galah sungai menjadi bintang utama. Hidangan ini bukan sekadar mie berkuah santan—ia adalah perpaduan sempurna antara kekayaan alam Musi, keterampilan tangan emak-emak Palembang, dan rasa yang selalu memanggil pulang. Bagi wong kito, semangkuk Mie Celor adalah pelukan hangat dari kampung halaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, kalau ke Palembang, jangan hanya buru pempek. Sisihkan pagi untuk semangkuk Mie Celor—rasa yang sekali coba, pasti ingin balik lagi. Selamat menikmati, Lur! <strong>(aurel)</strong></p>
<p>The post <a href="https://beritasebelas.net/mie-celor-pasta-khas-wong-kito-yang-bikin-ketagihan/">Mie Celor: Pasta Khas &#8216;Wong Kito&#8217; yang Bikin Ketagihan</a> appeared first on <a href="https://beritasebelas.net">Berita Sebelas</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://beritasebelas.net/mie-celor-pasta-khas-wong-kito-yang-bikin-ketagihan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kue Maksuba &#038; Lapis Kojo: Si Manis Legendaris yang Menyimpan Jiwa Palembang</title>
		<link>https://beritasebelas.net/kue-maksuba-lapis-kojo-si-manis-legendaris-yang-menyimpan-jiwa-palembang/</link>
					<comments>https://beritasebelas.net/kue-maksuba-lapis-kojo-si-manis-legendaris-yang-menyimpan-jiwa-palembang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurelia Titania]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2026 15:47:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[#Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[#Makanan Tradisional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://beritasebelas.net/?p=709</guid>

					<description><![CDATA[<p>DI PALEMBANG, kue basah bukan sekadar camilan—ia adalah bagian dari tradisi, penghormatan, dan identitas budaya. Saat ada perayaan besar—pernikahan, khatam Al-Qur’an, hari raya, atau menerima tamu kehormatan—meja tamu hampir pasti dihiasi deretan kue premium: maksuba, lapis kojo, engkak, bingka, dan beberapa jenis lapis legit lainnya. Dua di antaranya selalu menjadi bintang utama: Maksuba dan Lapis...</p>
<p>The post <a href="https://beritasebelas.net/kue-maksuba-lapis-kojo-si-manis-legendaris-yang-menyimpan-jiwa-palembang/">Kue Maksuba &amp; Lapis Kojo: Si Manis Legendaris yang Menyimpan Jiwa Palembang</a> appeared first on <a href="https://beritasebelas.net">Berita Sebelas</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>DI PALEMBANG</strong>, kue basah bukan sekadar camilan—ia adalah bagian dari tradisi, penghormatan, dan identitas budaya. Saat ada perayaan besar—pernikahan, khatam Al-Qur’an, hari raya, atau menerima tamu kehormatan—meja tamu hampir pasti dihiasi deretan kue premium: maksuba, lapis kojo, engkak, bingka, dan beberapa jenis lapis legit lainnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua di antaranya selalu menjadi bintang utama: Maksuba dan Lapis Kojo. Keduanya bukan kue yang dibuat sembarangan; prosesnya panjang, bahan bakunya mahal, dan penyajiannya penuh makna. Mereka adalah simbol kemewahan sederhana yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang dibesarkan dengan aroma pandan dan suji di dapur tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maksuba adalah kue telur paling ikonik dari Palembang. Namanya berasal dari bahasa Arab “maksub” yang berarti “tersusun” atau “ditumpuk”, dan memang begitulah cara pembuatannya. Satu loyang maksuba bisa menghabiskan 40–60 butir telur bebek, ditambah gula, santan kental, dan sedikit tepung terigu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Adonan dituang tipis-tipis ke loyang, dipanggang lapis demi lapis di atas bara api atau oven tradisional hingga berwarna kuning keemasan. Proses ini bisa memakan waktu hingga 4–6 jam, bahkan lebih jika dibuat secara manual. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya adalah kue yang padat, lembut, berlapis-lapis halus, dengan rasa manis gurih telur yang kaya dan aroma karamel alami dari proses pemanggangan panjang. Satu gigitan saja sudah cukup membuat orang menghela napas—karena rasanya memang mewah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Maksuba adalah raja kue kuning yang megah, Lapis Kojo adalah ratu hijau yang menenangkan. Warnanya hijau alami dari daun pandan dan ekstrak suji, dua bahan yang memberikan aroma khas yang sulit ditiru oleh pewarna buatan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Teksturnya legit, padat namun tidak terlalu keras, dengan lapisan-lapisan tipis yang terbentuk dari adonan santan, tepung beras, gula, dan telur yang juga dipanggang berlapis-lapis. Aroma suji yang segar dan sedikit manis floral membuat Lapis Kojo terasa seperti pelukan hangat dari kampung halaman. Banyak orang Palembang bilang, kalau sedang rindu rumah, cukup hirup aroma Lapis Kojo—langsung terbayang dapur nenek dan suara sendok mengaduk panci tembaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik proses pembuatan yang sangat memakan waktu, tersimpan filosofi mendalam. Membuat Maksuba dan Lapis Kojo tidak bisa buru-buru. Harus sabar menunggu setiap lapis matang sempurna, harus telaten mengatur api agar tidak gosong, dan harus penuh perhatian agar tekstur merata. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Palembang, proses panjang ini bukan sekadar teknis—ia menjadi simbol kesabaran, ketelatenan, dan penghargaan terhadap waktu serta bahan yang Allah berikan. Kue ini tidak dibuat untuk konsumsi sehari-hari; ia dibuat untuk momen-momen berharga, sehingga nilai kesabaran itu ikut “dihidangkan” kepada tamu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah mengapa menyajikan Maksuba dan Lapis Kojo kepada tamu istimewa memiliki status sosial dan nilai kehormatan yang tinggi. Di acara adat, tamu yang dihidangkan kue-kue ini biasanya adalah orang yang dihormati—besan, tokoh masyarakat, atau kerabat jauh yang jarang datang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Meletakkan sepotong Maksuba dan Lapis Kojo di piring tamu bukan sekadar menyuguhkan makanan, melainkan menyampaikan pesan: “Kamu begitu berharga sehingga kami rela menghabiskan waktu dan bahan terbaik untuk menghormatimu.” Tradisi ini masih kuat hingga sekarang di kalangan keluarga-keluarga tua Palembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di era pastry modern yang serba instan, kue-kue warisan ini mulai tergerus. Banyak generasi muda lebih memilih cake kekinian atau <em>dessert box </em>yang cepat dibuat dan lebih murah. Maksuba dan Lapis Kojo yang asli hampir punah di pasaran—kecuali di tangan para emak-emak atau warung-warung kecil yang masih mempertahankan resep turun-temurun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah saatnya kita bergerak: belajar membuatnya, memesannya dari pembuat tradisional, atau sekadar mengenalkannya kepada anak dan cucu. Melestarikan Maksuba dan Lapis Kojo bukan hanya soal menjaga resep, tapi juga menjaga nilai kesabaran, penghormatan, dan identitas budaya Palembang yang sudah ada ratusan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, kalau suatu hari kamu ke Palembang atau bertemu orang Palembang yang membawa kue dari kampung halaman, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi Maksuba dan Lapis Kojo. Di balik manisnya, ada cerita panjang tentang cinta, kesabaran, dan kehormatan. Itulah si manis legendaris yang tak tergantikan. <strong>(aurel)</strong></p>
<p>The post <a href="https://beritasebelas.net/kue-maksuba-lapis-kojo-si-manis-legendaris-yang-menyimpan-jiwa-palembang/">Kue Maksuba &amp; Lapis Kojo: Si Manis Legendaris yang Menyimpan Jiwa Palembang</a> appeared first on <a href="https://beritasebelas.net">Berita Sebelas</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://beritasebelas.net/kue-maksuba-lapis-kojo-si-manis-legendaris-yang-menyimpan-jiwa-palembang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Celimpungan: Si Kuning Gurih yang Sering Terlupakan di Balik Kemegahan Pempek</title>
		<link>https://beritasebelas.net/celimpungan-si-kuning-gurih-yang-sering-terlupakan-di-balik-kemegahan-pempek/</link>
					<comments>https://beritasebelas.net/celimpungan-si-kuning-gurih-yang-sering-terlupakan-di-balik-kemegahan-pempek/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurelia Titania]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2026 15:33:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[#Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[#Palembang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://beritasebelas.net/?p=706</guid>

					<description><![CDATA[<p>DI TENGAH gemerlap kuliner Palembang yang didominasi pempek, ada satu hidangan berbahan dasar ikan yang kerap luput dari perhatian wisatawan: Celimpungan. Banyak yang datang ke kota ini hanya memburu pempek lenjer, kapal selam, atau adaan, lalu pulang tanpa pernah tahu bahwa Palembang punya “si kuning gurih” yang tak kalah legendaris. Celimpungan adalah varian olahan ikan...</p>
<p>The post <a href="https://beritasebelas.net/celimpungan-si-kuning-gurih-yang-sering-terlupakan-di-balik-kemegahan-pempek/">Celimpungan: Si Kuning Gurih yang Sering Terlupakan di Balik Kemegahan Pempek</a> appeared first on <a href="https://beritasebelas.net">Berita Sebelas</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>DI TENGAH</strong> gemerlap kuliner Palembang yang didominasi pempek, ada satu hidangan berbahan dasar ikan yang kerap luput dari perhatian wisatawan: Celimpungan. Banyak yang datang ke kota ini hanya memburu pempek lenjer, kapal selam, atau adaan, lalu pulang tanpa pernah tahu bahwa Palembang punya “si kuning gurih” yang tak kalah legendaris. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Celimpungan adalah varian olahan ikan patin atau tenggiri yang lebih sederhana, lebih hangat, dan sangat dekat dengan keseharian masyarakat lokal—hidangan yang justru sering jadi penutup rindu ketika orang Palembang merantau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekilas, Celimpungan sering disamakan dengan tekwan karena keduanya memiliki &#8216;nasi&#8217; dengan bentuk yang sama dan berbahan dasar ikan. Namun, perbedaan mereka cukup mencolok, celimpungan berkuah santan sedangkan tekwan kuanya bening. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika tekwan menyajikan bola ikan kecil-kecil yang lembut dan hampir menyatu dengan kuah, Celimpungan justru hadir dengan bola ikan yang jauh lebih besar, bulat sempurna, dan punya tekstur padat kenyal di luar namun lembut di dalam. Bola ikan ini dibentuk tangan dengan teliti, sering kali seukuran telapak tangan anak kecil, sehingga setiap suapan terasa lebih mengenyangkan dan bertekstur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rahasia utama yang membuat Celimpungan begitu dicintai terletak pada kuah santannya yang berwarna kuning cerah. Warna itu bukan sekadar pewarna makanan, melainkan hasil perpaduan kunyit segar yang melimpah, lengkuas yang dimemarkan hingga mengeluarkan aroma tajam, serta kemiri sangrai yang memberikan kekentalan dan rasa gurih mendalam. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa penjual tradisional bahkan menambahkan sedikit serai dan daun jeruk purut agar aromanya semakin menggoda. Kuah ini biasanya tidak terlalu kental seperti opor, melainkan sedikit encer namun tetap kaya rasa—cukup untuk membasahi nasi putih hangat atau disantap langsung dengan sendok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sensasi yang ditawarkan Celimpungan adalah perpaduan gurih hangat yang menenangkan. Kuah santannya yang mild namun berlapis rasa rempah membuatnya sangat cocok dinikmati di pagi hari sebagai sarapan, atau sebagai hidangan pembuka dalam acara adat seperti kenduri dan pernikahan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi orang Palembang, aroma kunyit dan santan Celimpungan sering membangkitkan kenangan masa kecil: suara lesung menumbuk bumbu di dapur belakang, ibu atau nenek sibuk mengaduk panci besar, dan meja makan yang ramai. Ia bukan makanan mewah, tapi selalu hadir saat dibutuhkan—<em>comfort food </em>dalam arti yang paling tulus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lengkap rasanya menyantap Celimpungan tanpa pelengkap wajibnya: taburan bawang goreng yang renyah dan wangi, serta sambal merah pedas yang dibuat dari cabai rawit, bawang, dan sedikit terasi. Bawang goreng memberikan tekstur kontras pada kuah yang lembut, sementara sambal merah menghadirkan tendangan pedas yang menyeimbangkan kekayaan santan sehingga tidak terasa enek. Beberapa orang bahkan menambahkan jeruk nipis atau irisan mentimun segar untuk menyegarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Celimpungan bukan sekadar makanan—ia adalah cerminan sifat masyarakat Palembang: sederhana, hangat, dan penuh rasa. Di balik popularitas pempek yang mendunia, Celimpungan tetap setia menemani hari-hari biasa, menjadi penawar rindu bagi perantau, dan mengingatkan bahwa kekayaan kuliner Palembang tidak hanya terletak pada yang terkenal, tetapi juga pada yang paling dekat dengan hati. Jadi, kalau suatu hari kamu ke Palembang, jangan hanya berburu pempek. Luangkan waktu untuk mencicipi semangkuk Celimpungan panas—si kuning gurih yang diam-diam jadi favorit banyak orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wajib dicoba, Lur! <strong>(aurel)</strong></p>
<p>The post <a href="https://beritasebelas.net/celimpungan-si-kuning-gurih-yang-sering-terlupakan-di-balik-kemegahan-pempek/">Celimpungan: Si Kuning Gurih yang Sering Terlupakan di Balik Kemegahan Pempek</a> appeared first on <a href="https://beritasebelas.net">Berita Sebelas</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://beritasebelas.net/celimpungan-si-kuning-gurih-yang-sering-terlupakan-di-balik-kemegahan-pempek/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
