SETIAP tahun, bulan Ramadhan datang dengan paradoks yang menyedihkan: di tengah kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, volume sampah makanan melonjak drastis. Data dari berbagai lembaga lingkungan menunjukkan peningkatan sampah organik hingga 30–50% selama bulan puasa, terutama di minggu-minggu pertama.
Sisa makanan dari hidangan berbuka, takjil berlebih, dan prasmanan yang tak habis menjadi penyumbang utama. Ironisnya, di bulan yang seharusnya mengajarkan pengendalian diri dan rasa syukur, justru banyak makanan yang terbuang sia-sia—padahal jutaan orang di sekitar kita masih berjuang untuk sekadar mengisi perut.
Puasa sebenarnya adalah latihan menahan nafsu, bukan ajang “balas dendam” setelah seharian menahan lapar. Ketika azan maghrib berkumandang, godaan untuk melahap segala yang ada di depan mata sangat besar. Namun, Islam sangat menekankan nilai israf (pemborosan) sebagai perilaku yang dilarang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa kita tidak boleh membuang makanan, bahkan sisa-sisa kecil sekalipun. Berbuka yang berlebihan tidak hanya membahayakan kesehatan (kembung, asam lambung naik), tapi juga menyia-nyiakan rezeki dan menambah beban lingkungan. Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk lebih bijak, bukan lebih boros.
Kunci pertama mengurangi food waste adalah mengatur porsi dengan sadar. Di meja prasmanan atau saat memesan makanan online, biasakan mengambil atau memesan sesuai kapasitas perut yang sebenarnya—bukan sesuai mata yang lapar. Mulai dengan porsi kecil dulu, lalu tambah jika masih lapar setelah beberapa menit.
Ajak keluarga atau teman berbuka untuk saling mengingatkan: “Cukup dulu ya, nanti tambah kalau masih kuat.” Kebiasaan sederhana ini bisa mengurangi sisa makanan hingga setengahnya. Ingat, berbuka sunnah dengan yang manis-manis ringan (kurma + air putih) juga membantu mengendalikan nafsu makan berlebih.
Kalau makanan sudah terlanjur berlebih, jangan langsung dibuang. Food sharing atau mengolah ulang adalah solusi terbaik. Sisa lauk bisa dibungkus rapi dan dibagikan ke tetangga, sekuriti kompleks, atau anak-anak jalanan yang biasa lewat saat maghrib. Banyak masjid dan komunitas lokal punya program “kotak berbagi” atau “ambil gratis” untuk makanan berlebih.
Kalau ingin mengolah sendiri, ubah sisa nasi menjadi nasi goreng, sisa sayur jadi sup, atau sisa daging jadi rendang kemarin. Dengan sedikit kreativitas, makanan yang tadinya akan jadi sampah bisa jadi berkah bagi orang lain atau untuk makan sahur besok.
Selain food waste, sampah plastik sekali pakai juga melonjak di bulan Ramadhan—terutama dari pembelian takjil di pasar malam. Plastik kresek, gelas plastik, dan sedotan sekali pakai menumpuk di pinggir jalan.
Mulai biasakan membawa tupperware atau tas kain saat belanja takjil. Banyak penjual kini mulai terbuka menerima wadah bawa sendiri—cukup katakan “minta pakai wadah sendiri ya, Kak”. Langkah kecil ini tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga memberi contoh positif kepada penjual dan pembeli lain.
Ramadhan 2026 bisa menjadi momentum untuk menjadikan ibadah kita lebih hijau dan ramah lingkungan. Mengurangi food waste dan sampah plastik bukan hanya soal menjaga alam, tapi juga bentuk syukur atas rezeki yang Allah berikan.
Bayangkan betapa indahnya jika bulan suci ini meninggalkan jejak berkah, bukan tumpukan sampah. Mulai dari diri sendiri: ambil secukupnya, bagikan yang berlebih, bawa wadah sendiri. Dengan begitu, Ramadhan tidak hanya membersihkan hati, tapi juga membantu menjaga bumi yang kita tempati.
Yuk, buat Ramadhan kali ini lebih sustainable—berkahnya berlipat, sampahnya berkurang. Selamat menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran, bro! (aurel)
